Jan 07 2012
Blogger untuk Pengembangan Pariwisata Banten
Provinsi Banten. Provinsi ini terdiri atas Kabupaten Serang, Kabupaten Pandeglang, Kabupaten Lebak, Kabupaten Tangerang, Kota Cilegon, Kota Tangerang, Kota Serang, dan Kota Tangerang Selatan. Ibukota provinsi ini adalah Serang, walaupun kegiatan perekonomian lebih terasa denyutnya di Kota Tangerang dan Tangerang Selatan, dimana perkembangan infrastruktur dan perumahan sangat pesat di dua wilayah ini.
Terletak di ujung barat Pulau Jawa, memposisikan Banten sebagai pintu gerbang Pulau Jawa dan Sumatera dan berbatasan langsung dengan wilayah DKI Jakarta sebagai Ibu Kota Negara.
Dalam MP3EI (Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia) 2011-2025, Provinsi Banten memegang peranan penting sebagai wilayah utama yang akan menyatukan antara Koridor II (Banten, Jakarta, Semarang, Jogja, Surabaya) dan Koridor I Sumatera (Banda Aceh, Medan, Pakanbaru, Batam, Jambi, Padang, Palembang, Bengkulu, Lampung, Pangkal Pinang).
Perwujudan sarana penghubung antara koridor II dengan Koridor I adalah dengan pembangunan Jembatan Selat Sunda (JSS) yang dijadwalkan akan dimulai pada tahun 2013. Pembangunan JSS akan menyatukan Pulau Sumatera dan Pulau Jawa sehingga akan menimbulkan dampak ekonomi yang positif, terhadap seluruh wilayah Banten, misalnya saja berkembangnya kegiatan ekonomi utama pada masing-masing kaki jembatan, seperti resor pariwisata Tanjung Lesung (1.500 ha), kawasan sekitar Peti Kemas Bojonegara (500 ha) dan kawasan industri di Cilegon.
Harus diakui, bahwa pembangunan Provinsi Banten belum merata. Pembangunan dan kesejahteraan baru tampak nyata di wilayah Tangerang, Tangerang Selatan, Serang Padahal Banten menyimpan begitu banyak potensi. Terutama potensi pengembangan pariwisata. Dari situs resmi pemprov Banten, diketahui telah diidentifikasi keberadaan 241 obyek wisata yang terdiri dari obyek wisata kategori alam (60 obyek) dan obyek wisata kategori buatan (181 obyek). Luar biasa, begitu kayanya potensi pariwisata yang sudah terpetakan ini. Obyek wisata pantai yang sudah terpetakan ada dan air terjun sebanyak 11 lokasi, tersebar di Kab. Pandenglang, Kab. Serang dan Kab. Lebak.
Secara kewilayahan, pola pengembangan pariwisata Provinsi Banten terdiri dari Kawasan Wisata Pantai Barat, Kawasan Wisata Ziarah, Kawasan Wisata Pantai Selatan dan Kawasan Wisata Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK). Dalam Rencana Induk Pengembangan Pariwisata Provinsi Banten telah ditetapkan 18 kawasan pengembangan pariwisata yang tersebar di seluruh kabupaten/kota berdasarkan hasil pengelompokan (clustering) obyek-obyek wisata yang ada.
Dari 18 kawasan pengembangan pariwisata yang ditetapkan tersebut, sebagian telah bertumbuh menjadi obyek wisata nasional maupun internasional, seperti Kawasan Pantai Anyer-Carita-Tanjung Lesung, Living Culture Baduy, dan TNUK. Namun bertumbuhkembangnya kawasan wisata secara umum masih terkonsentrasi pada wilayah utara dan barat Provinsi Banten. Sedangkan kawasan-kawasan pengembangan wisata di wilayah selatan belum bertumbuhkembang terutama disebabkan oleh keterbatasan infrastruktur .
Di bagian selatan Banten, tepatnya di Kabupaten Lebak , ada Pantai Bayah yang cantik yang belum tersentuh oleh investor untuk pengembangan pariwisatanya. Selain itu, di kabupaten Lebak masih ada Pantai Bagedur, Desa Wisata Sawarna, Gua Lalay, dan Pantai Sawarna yang memiliki ombak yang disukai para peselancar.
Ada beberapa kemungkinan mengapa potensi pariwisata Banten wilayah selatan belum banyak dilirik investor maupun masyarakat, di antaranya belum memadainya sarana dan prasarana yang vital seperti kondisi jalan, listrik, air bersih, telekomunikasi, pusat perbelanjaan, dan perhotelan. Di kawasan Sawarna, belum ada hotel berbintang yang memadai, namun tersedia homestay yang ternyata juga diinisiasi oleh masyarakat setempat.
Apa yang bisa dilakukan blogger khususnya blogger yang berdomisili di wilayah Banten? Blog adalah salah satu wadah citizen journalism yang bisa dimanfaatkan sebagai bentuk kontrol sosial masyarakat pada pemerintah. Blogger bisa menjadi corong aspirasi masyarakat, menjadi penyambung lidah dari masyarakat melalui sosial media. Banten membutuhkan blogger-blogger yang kritis, independen, peka terhadap lingkungan, siap menyuarakan keinginan masyarakat, berani memberi masukan kepada penyelenggaraan negara dan berani bahu membahu bersama masyarakat dalambentuk karya positif untuk mewujudkan Banten yang lebih baik. Saya sendiri sebagai warga Banten belum mengenal dan mengunjungi tempat pariwisata yang indah di Banten, kecuali Anyer dan beberapa tempat wisata perkotaan. Dalam memperkenalkan obyek pariwisata di Banten, terutama wisata alam yang masih belum banyak dikenal oleh masyarakat di luar Banten, peranan blogger bisa menjadi sangat strategis.
Saya pernah dan mungkin juga masih memimpikan bahwa blogger Banten bisa menyelenggarakan suatu bentuk pertemuan atau kopdar Blogger nasional yang bertemakan wisata Banten, berlokasi, mungkin di wilayah Lebak, salah satu wilayah yang masih tertinggal namun memiliki potensi pariwisata yang besar. Tentunya dengan mengundang blogger-blogger Banten dan blogger tamu dari seluruh Indonesia. Harapan saya, akan sangat membantu bila Pemprov Banten sendiri yang memfasilitasi kegiatan ini.Diharapkan para blogger melalui tulisan mereka di blog masing-masing (berdasarkan pengalaman mereka sendiri menyaksikan dan menikmati keindahan obyek wisata Banten) , bisa menjadi corong untuk menyebarkan informasi tentang keindahan obyek wisata banten ini, sekaligus juga mengkritisi kinerja pemerintah provinsi agar segera tergerak untuk membenahi wilayahnya.
Jika bersatu, blogger Banten pasti bisa membuat perubahan, paling tidak, menginisiasi adanya perubahan untuk Provinsi tercinta ini. Amien.
Referensi artikel ini diambil dari 1, 2, 3, 4, 5

enak (kata misua).






