Sumpah saya malesss buanget posting… huffff. Tapi ngeliat blog ini kosong kok gimana gitu yaaa…jadi saya posting deh, meskipun postingannya copas-copas saja, hehehe.

Lingerie is a term for fashionable and notionally alluring undergarment, kata wikipedia. Berasal dari bahasa Perancis, kata ini menjadi kata umum dalam bahasa Inggis. Lingerie memang diasosiasikan sebagai bukan sekedar underwear, bukan sekedar pakaian dalam, tetapi underwear yang istimewa, lebih berkesan erotis, seksi, atau fashionable.

Walaupun secara historisnya, kata lingerie merujuk ke pakaian dalam yang dikenakan perempuan dan laki-laki, namun saat ini lingerie lebih diasosiasikan sebagai pakaian dalam wanita. Gak ada kan yang mengatakan bahwa boxer cowok, bagaimanapun seksi dan mahalnya, sebagai lingerie ? wakakak..

180px-lingerie

Lingerie memang bukan pakaian dalam biasa. Pakaian dalam ‘biasa’ (bra dan cd) umumnya dikenakan dengan tujuan hanya untuk melindungi dan menutupi bagian pribadi. sebagai underwear, artinya dikenakan sebelum pakaian utama, umumnya diusahakan agar tidak terlihat dari luar.

Ada berbagai jenis lingerie, misalnya yang paling sering dipakai oleh perempuan yang sudah akil balig, adalah brassiere (bra) dan panty (celana dalam), camisole , thong-celana dalam yang sangat sexy, atau G-string panty-ini pun sangat seksi karena menonjolkan bentuk bokong, hanya saja sangat tidak nyaman dipakai. Ada juga baby doll, bustier, korset, bikini, dan garter belt (kesannya bitchy banget deh garter belt ini).

Brassiere

Brassiere

panties

panties

Baby Doll

Baby Doll

Garter Belt

Garter Belt

Thing

Thong

G String

G String

Tentunya anda tidak asing dengan merek-merek lingerie yang sudah mendunia, seperti Victoria’s Secret, Triumph, Wacoal, Vanity Fair, Calvin Klein. Selain merek di atas, merek-merek yang lumayan terkenal di Indonesia misalnya Sorella, Felancy, dan masih banyak lagi.

Belasan tahun yang lalu, waktu aku masih SMP.. mm..I’m in early thirties now.. aku merasa model pakaian dalam yang kujumpai di toko terasa biasa-biasa saja dibandingkan sekarang. Warna yang dominan waktu itu adalah warna pastel. Putih, pink, biru muda, coklat muda. Ada juga underwear hitam. Tapi modelnya masih sederhana.

Sekarang? Lingerie berbagai model, beraneka warna dan motif yang unik dan indah begitu mudah dijumpai. Mulai dari harga jutaan milik brand-brand top sampai belasan ribu rupiah yang buatan China. Tersebar dari rumah mode dan department store kondang sampai toko di pasar tradisional.

Terus terang, aku suka membeli lingerie beraneka warna dan model. Tentunya yang sesuai budget juga lah. Kebutuhan lain masih banyak. Aku bukan fanatik terhadap brand tertentu. Kalau model dan harga cocok ya dibeli. Kalau ngga ya dipandangi saja (ngarep mode-on).

aku membeli lingerie sebetulnya bukan semata untuk menyenangkan suami. Tapi yeah, mengenakan lingerie yang kusuka, membuatku merasa lebih cantik, lebih seksi, dan membuat moodku jadi lebih baik, termasuk bila sedang … hehehe…

Dulu, aku pernah membaca aturan menggunakan underwear seperti ini: bila mengenakan baju putih, kenakan underwear warna putih. bila menggunakan baju warna pastel, kenakan underwear dengan warna coklat atau pink. Tujuannya (mungkin) supaya ngga terlalu keliatan kali yah underwearnya, biarlebih sopan. Tapi sekarang rasanya sah-sah saja mengenakan underwear berwarna terang(gonjreng) dan bermotif dibawah blus putih. Membiarkan warna dan corak atau renda lingerie terlihat samar. Kesannya jadi seksi, berani, atau malah aneh dan bitchy? Hehehe…tergantung situasi kali ya.

Kalau menurut saya, selama masih kelihatan pantas dan ‘nggak norak’, kenapa nggak. Tentunya lihat occasion yang akan kita hadiri. resmi atau nggaknya. Misalnya: mengenakan kebaya brukat tentunya lebih pas mengenakan kamisol dengan warna yang sesuai dengan kebaya tersebut. Jangan sampai jadi celotehan orang lah.

Well, to me, lingerie is one of my mood booster. Lingerie meningkatkan kepercayaan diri saya dengan cara yang aneh. Membuat saya merasa lebih cantik (terutama di saat haid dan merasa ga enak dengan body sendiri, atau dulu waktu saya habis melahirkan dan merasa ndutttt).  Bila akan menghadapi hari yang berat, saya mengenakan lingerie yang bagus untuk menambah pede di hari itu.  and it works.. lucu juga..  Lingerie juga membuat saya lebih pede saat …..(ehm ehm).

So, what does a lingerie mean to you?

Suatu kali, mobil suami pernah diserempet cukup keras oleh mobil lain. Bunyi tabrakan yang cukup keras membuat saya dan suami terkejut, lalu kami menepi.  Mobil penabrak juga berhenti beberapa meter di depan kami.

Ternyata pengemudinya gadis muda yang cantik manis. Si gadis keluar dari mobil, lalu   berdiri menatap bemper mobil suami yang penyok dan kerusakan di mobilnya sendiri.  Wajahnya tampak bingung.

Saya kesal, jengkel.  Hari sudah malam dan saya lelah, kok dapat masalah begini.   Saya sudah sempat menyerapah beberapa patah kata di dalam mobil.

Tapi, tidak seperti saya yang cerewet emosian, suami saya orangnya sabar.  Beliau cuma bilang, “Sepertinya tidak parah.  Udah, kamu diam. Aku yang bicara.”

Pffft, lagi jengkel kok disuruh diam Bagaimana kalo anak itu ngeles, ga ngaku, ga mau bertanggung jawab? pikir saya. jelas-jelas gadis itu yang salah kok, dan sejumlah prasangka jelek meraja di otak saya.

Lalu suami saya berbicara dengan gadis yang tampak ketakutan itu diiringi tatapan cemburu saya.  Beberapa saat kemudian dia kembali ke mobil.

Singkat cerita, kami berkendara beriringan menuju rumah orang tua gadis tersebut. Rupanya dia memakai mobil ayahnya.  Kami diterima orangtua gadis tersebut dengan baik.  Suami menjelaskan perbuatan tidak menyenangkan permasalahannya ke ayah gadis tersebut, dan putrinya pun  mengakui kesalahannya.  Untung mobil yang bertabrakan itu  keduanya diasuransikan, hingga  penyelesaian pun berlangsung damai dan lancar.  Malah kami jadi kenal dan bersahabat baik dengan keluarga gadis tersebut, sampai sekarang.

Sebuah kejadian yang awalnya tidak enak, tapi berakhir dengan menyenangkan. Indah.

Saya kagum atas sikap suami yang tidak emosi dan bersikap bijak menghadapi hal di atas.  Dia tidak menyalahkan, tetapi mencari penyelesaian.    Si gadis dan ayahnya pun berbesar hati mengakui kesalahan mereka.  Sekaligus bertanggung jawab serta aktif memfollow up  penyelesaian masalah yang memakan waktu beberapa hari.

Lhah, coba kalu saya yang turun, terus saya emosi dan ngomel-ngomel, walaupun emang saya berhak ngomel secara saya yang jadi korban, tapi  mungkin lain akhir ceritanya, hehehe.  Dalam hal ini, memang benar diam itu emas (buat saya).

Namanya juga manusia, pasti pernah melakukan kesalahan.  Dalam bermasyarakat atau bersosialisasi, mungkin pernah sekali sekala kita mengalami hal yang tidak menyenangkan, atau berselisih dengan pihak lain.  beberapa perselisihan mungkin sudah diselesaikan dengan berbagai cara, cara damai, cara keras, atau malah melalui jalur hukum sekalian.

But life goes on.  Orang-orang yang pernah berselisih di suatu waktu, bisa jadi tetap bermusuhan selamanya, atau malah justru jadi dekat, jadi sahabat seperti yang terjadi pada kami.  Bisa juga malah jadi partner.  Tergantung cara kita menyikapi keadaan.

Ada satu hal yang bisa dilakukan untuk menyelesaikan perselisihan dengan baik, seperti yang dilakukan suami saya dan gadis tersebut.  Berbesar hati.

Berbesar hati mengakui kesalahan, berbesar hati menerima permintaan maaf pihak yang bersalah.  Berbesar hati mencari solusi, dan menutup yang sudah selesai.  Memulai lembaran baru dengan pandangan baru.

***

Beberapa hari ini saya mengamati perbincangan yang terjadi  di dua postingan yang ditulis sahabat saya,  mas Anjari.

Postingan dengan tujuan baik, dan ditanggapi  pula oleh orang-orang yang juga bertujuan baik.  Orang-orang yang dalam hati, peduli dengan komunitas dblogger. Lha, kalau ga peduli, ngapain juga menanggapi, ya kan.  Meskipun, tidak bertutur bukan berarti tidak peduli.

Mungkin saja ada sahabat yang berpikir, daripada jika bertutur nanti hanya akan memperkeruh suasana, lebih baik diam.  Untuk beberapa alasan,(mungkin) benar bahwa diam itu emas.

Perbincangan dalam kalimat yang tak jua usai, digambarkan mas Anjari sebagai berikut:

waktu bergulir, jam berganti dan hari pun terus berlari. rupanya kebijaksanaan yang ingin saya lakukan itu, barangkali tidak mencapai ukuran yang tepat. perbedaan pendapat, pertukaran pikiran dan adu argumen menjurus kepada hal-hal yang tidak konstruktif. saya berbicara mengatasnamakan “menurut saya”. kemudian seorang sahabat mengatakan “menurut saya”nya dia. dan disusun sambung menyambung banyak sahabat berbicara “menurut saya”nya mereka. kebijaksanaan macam apa yang saya niatkan waktu itu, hingga melahirkan “menurut saya” ini.

Saya sempat lega beberapa saat karena sepertinya intensitas rasa yang diungkap akhirnya  sudah mencapai puncak dan kelihatannya mulai menurun ke lembah (meminjam ungkapan mas Anjari).  Sudah pula diterangkan duduk perkaranya oleh sahabat yang lain, mas KW.

Rasa lega saya bertambah kala Hilman, ketua dblogger turut menjernihkan perkara dengan ungkapannya:

Wah ternyata pemanasan semakin berlanjut. Saya harap tidak ada yang merasa tersakiti dalam hal ini. Kalaupun ada, saya ingin meminta maaf yang sebesar-besarnya. Karena kesalahan itu terletak di diri saya, secara pribadi. Tanpa melibatkan pengurus yang lainnya, yang sudah beekerja keras demi majunya komunitas dblogger ini….

Saya ingin meminta maaf pada teman-teman pengurus yang lain, karena kesalahan saya membuat teman-teman harus terkena getahnya. Dan terus terang saya tidak terima jika ada orang yang jadi menjelek-jelekkan kepengurusan, terkait dengan masalah ini. Kalau teman-teman mau menjelek-jelekkan, mau mencaci, mau protes, sebaiknya lakukan pada saya, jangan pada pengurus yang lainnya.

Dengan segala hormat, saya ingin keberadaan komunitas ini tetap memberi manfaat bagi banyak orang. Kalau ada perbedaan pendapat, marilah kita sikapi dengan diskusi dan menyelesaikan masalahnya, bukanlah dengan menimbulkan perpecahan. Terima kasih.

Saya salut pada Hilman, yang dengan kebesaran hatinya dan legawa, memilih untuk maju dan mengakui bahwa apa yang terjadi adalah tanggung jawabnya.

Tidak hanya sekali, beberapa kali Hilman menunjukkan kebesaran hatinya di beberapa tempat dengan harapan bisa dibaca oleh semua pihak yang masih belum sepakat.

Tidak sering saya jumpai orang yang mau mengambil sikap seperti Hilman.  Berani membuang ego, bertanggung jawab dan mengajak rekonsiliasi.  Siap melepaskan demi kebaikan.

Saya tidak terlalu dekat mengenal Hilman, walaupun pernah beberapa kali bertemu di kopdar.  Berkomunikasi langsung dengan beliau juga jarang.  Orangnya (menurut saya) simple.  Ga banyak omong, ternyata rupanya beliau lebih suka menunjukkan aksi daripada diksi.  Membuat theme baru untuk situs dblogger.  Tahu-tahu theme nya sudah jadi dan dilaunch.  Membangun dblogger.org yang merupakan maket template baru dblogger.blogdetik.com.

Kita semua  pernah berbuat salah, atau tidakpuas , mungkin sekali ada rasa mengganjal yang mengendap di hati.  Mungkin, dengan berbesar hati seperti mas Hilman, mengakui, bermaaf dan memaafkan, akan mengurangi rasa tersebut.

Well,saya pun tidak mungkin luput dari kesalahan.  Dengan ini saya mohon maaf bila ada tuturan saya yang sengaja atau tidak sengaja melukai hati anda.

Yuk.. mari berlega hati untuk berbesar hati, lalu sama sama memperbaiki.

***

Terkejut. Terperangah. Senang. Excited. Like seeing an old close friend after years. Waduh, kok lebay.com gini ya?

OK, pangkal keterkejutan saya adalah saat saya melihat kolom bertajuk KOKI-Citizen Journalism di  frontpage DETIK.com. Spontan saya berteriak (dalam hati tentu saja): Whattt? Koki is now at detik?  Is this true?

Saya heran karena kok gak ada woro-woro apapun dari pihak detik atas masuknya mantan kolom binaan KOMPAS.COM ke DETIK.com. Saya coba telusuri suratdaribuncit.detik.com, mungkin ada berita yang terlewat. Walah. Ga ada juga. OK, saya terlalu malas untuk bertanya pada mas Karmin yang saya lirik statusnya offline dari jendela meebo saya. Jadi saya mencari tahu sendiri dengan mengklik link KOKI tersebut. Dan tak lupa saya coba untuk masuk ke web address KOKI setelah ciao dari KOMPAS.com yaitu http://koki-kolomkita.com

Wow, ternyata alamat di http://koki-kolomkita.com di redirecting ke halaman koki di detik.com yaitu http://kolomkita.detik.com.

So, it is official that now KOKI is having a new home, DETIK.com.. Congrats Koki. Congrats Zev (adminnya KoKi).

koki

By the way, apa sih KOKI itu sampai saya segitu excitednya? Ok saya mau cerita sedikit tentang KOKI sebatas ingatan dan pemahaman saya (saya lagi malas browsing untuk mencari sejarah KOKI, jadi ya seingat otak saya saja ya).

KOKI (Kolom Kita) adalah wadah citizen journalism pertama yang dibentuk dan bernaung di bawah KOMPAS.COM. KOKI terbentuk jauh sebelum Kompasiana berdiri, kalau ngga salah sih sekitar 4 tahun yang lalu. Sepemahaman saya, KOKI awalnya adalah suatu media tempat curhat atau menulis para pembaca KOMPAS.com yang berdomisili di luar Indonesia. Seperti media untuk temu kangen secara maya dengan sesama pembaca KOMPAS.com di luar negeri. Hal ini bisa dilihat di artikel awalnya yang semua penulisnya rata-rata berdomisili di luar negeri, contoh: Reef-Australia, Coco-Kobe(Jepang). Koki diasuh seorang moderator bernama Zeverina (dipanggil Zev). Zev inilah yang akan menerima, menyeleksi, mengedit atau memuat artikel kiriman Kokiers (sebutan untuk contributor dan pembaca koki) di halaman online KOKI.

Awalnya saya nggak suka baca tulisan-tulisan di KOKI. Saya pikir KOKI ini sangat ekslusif, hanya layak dibaca mereka yang berdomisili di luar negeri thok. Isi artikelnya pun kurang lebih seragam: Natalan di negara anu, Puasa atau Lebaran di negara yang mayoritas penduduknya non muslim, susahnya kerja di negeri orang, perjuangan dapat greencard, dst dst. Males.

Tapi dengan berjalannya waktu, ternyata isi KOKI jadi lebih beragam. Namanya juga citizen journalism, jadi setiap orang bisa menulis apa saja, kemudian isi KOKI menjadi makin berwarna, gak ada kesan eksklusif. Dan mulai terlihat ada segmentasi yang rapi di dalam KOKI. Ada kolom Kuliner, Perjalanan, Politik, Kehidupan, Kisah Cinta, Kesehatan, Sastra, dan lain-lain. Saya mulai mengagumi tulisan para kontributor KOKI. Penuturan dan tata bahasa yang digunakan sudah seperti jurnalis professional. Saya paling doyan baca KOKI Life dan KOKI Love. Agak-agak menyerempet gimana gitu isinya. Tapi bahasanya tetep sopan. Saya juga melihat, contributor koki makin beragam, yang lokal pun banyak. Contohnya Ki Ageng Similikithi. Tulisannya di KOKI Life memberikan banyak makna dan wejangan hidup.

KOKI juga punya banyak penggemar. Satu artikel, dulu rata-rata bisa dibaca minimal oleh seribu viewer. Apalagi kalau isinya dah yang nyerempet-nyerempet seks gitu.. wah ..sehari aja bisa 3000 viewer tercapai. Pernah saya lihat ada satu artikel yang viewernya 12ribuan. Gile. Yah kek tulisannya Mariska Lubis di kompasiana. Rame pengunjung.

Saya adalah silent reader KOKI, dulu saya sering baca-baca artikel di koki di jam makan siang saya. Selain KOKI Life dan KOKI Love, saya hobi baca artikel kuliner atau catatan perjalanan, atau artikel lain yang ringan-ringan. Tapi saya gak pernah tertarik untuk menjadi komentator apalagi kontributor KOKI. Saya paling malas disuruh ngisi form kalau akan mengkomentari suatu artikel. Mendingan ga usah komentar. Cuma blogdetik yang sukses bikin saya ngisi form untuk sekedar mengkomentari artikel sahabat-sahabat saya, sebelum sukses mencemplungkan saya sebagai salah satu dblogger, dan membuat saya melupakan KOKI.

Tapi, memang menyenangkan melihat tanggapan komentator di koki. Lucu-lucu. Banyak komentator fanatik. Komunitasnya pun (rasanya) ada walaupun saya ga tau mereka kopdaran atau nggak. Kadang-kadang ada polling, seperti polling siapa kontributor favorit, dan sebagainya. Cuma dulu kayaknya gak ada lomba yang menarik dan berhadiah seperti di Blogdetik deh.  So tetap dalam hal ini blogdetik lebih unggul.

Lalu, Kompasiana muncul. Terus entah bagaimana, saya dengar KOKI diminta dilebur ke dalam Kompasiana. Ternyata banyak Kokiers yang menolak. Kalau nggak salah, waktu itu format KOMPASIANA masih kaku, KOKI dianggap oleh Kokiers jauh lebih fleksibel.  Belum ada segmentasi artikel seperti sekarang.  Pun artikel yang masuk tetap harus lewat moderasi dari KOMPAS. Aturan main harus mengikuti aturan Kompasiana.  Penolakan ini cukup keras, bahkan moderator KOKI sendiri menolak peleburan ini. Puncaknya, Zeverina undur diri dari KOMPAS.com . KOKI menghilang dari KOMPAS.com. Bahkan arsip lamanya pun tidak saya temukan. Saya hanya sedikit mengikuti huru hara antara KOKI vs Kompas.com . Namun tak lama berselang, saya menemukan rumah baru KOKI, pertama di blogspot, yang dikatakan sebagai tempat penampungan sementara, kemudian yang lebih permanen di http://koki-kolomkita.com. Kelihatannya, beberapa Kokiers yang setia bersama-sama membangun rumah itu dan memuat kembali arsip-arsip lama KOKI. At the end, KOMPAS akhirnya sukses membesarkan Kompasiana. Saya juga punya akun di sana, walaupun sangat tidak terawat. Dan saya jarang main-main lagi ke KOKI, sampai tadi.

Well, saat ini KOKI telah LIVE di DETIK.com, walau mungkin launchingnya belum diumumkan secara resmi. Pemberitahuan bahwa KOKI pindah ke detik.com saat ini hanya surat dari Zeverina di http://kolomkita.detik.com/baca/artikel/17/1140/selamat_tahun_baru_kokiers_….

Congratulation Zev, you finally made your dream for KOKI and Kokiers, finding a new home for them. Saya pun senang, bisa menikmati artikel Kokiers dengan lebih gampang, hanya dengan membuka detik.com.

Cuma… kok penempatan link ke KOKI ada jauuuh berada di atas Blogdetik ya? Tampilannya pun lebih mengundang keingintahuan pembaca, dengan dimuatnya potongan isi artikel. Sebagai dBlogger, saya pun ingin tampilan Blogdetik di frontpage lebih ‘pantas’ dan menarik, mengundang orang untuk mengklik link Blogdetik. Bukan apa-apa sih, but detik.com already have their own established community canals. Makes me wonder, sebenarnya bagaimana posisi KOKI vs Blogdetik, Tanya Saja, or Detik Forum. And how would Detik manage their support for each canals? Hmm.. can anyone from Detik management give any comment?

Kata siapa yang namanya nge-date harus saat weekend? Ngedate (kencan) di weekdays juga seru, tentunya bersama pasangan yang kita cintai. Kencan di weekdays juga obat yang mujarab untuk menghilangkan stres yang memuncak karena beban kerja dan target di akhir tahun.

Ah, sebenarnya sih saya cuma mau cerita tentang film Avatar, yang kemarin saya tonton bareng lelaki saya. We both like science fiction movie, dan melihat trailernya yang sunggguuuuuuh bikin ngiler, saya bener-bener ga sabar ingin menuntaskan penasaran saya terhadap film yang kabarnya berbujet USD 237 juta itu.

Walaupun mungkin agak sedikit terlambat (jangan-jangan dblogger sudah pada nonton semua nih), saya ingin cerita sedikit tentang film ini. Oh ya, saya nonton di Blitz (deket rumah soale), yang 3D. The first time watching movie in Blitz! Menyaksikan Avatar dengan teknologi 3D milik Blitz Megaplex memang membuat imajinasi yang dibesut James Cameron tampak begitu nyata.

Lewat ‘Avatar’, sutradara James Cameron sepertinya ingin mengulangi kesuksesan yang pernah ia raih bersama ‘Titanic’. Baru dirilis 16 Desember kemarin, film epik tersebut sudah sanggup mengumpulkan US$ 73 juta atau Rp 693 miliar.

Avatar bersetting di masa depan, tahun 2154. Mengisahkan seorang mantan Marinir Amerika bernama Jake Sully (Sam Worthington) Jake yang kakinya lumpuh akibat peperangan di bumi, terpilih untuk menggantikan saudara kembarnya yang juga tewas untuk menjalani program Avatar. Dengan mngikuti program ini, Jake mengharapkan bisa memperoleh uang untuk mengobati kakinya yang lumpuh.

Kemudian Jake pergi ke Pandora, sebuah planet yang terletak di sistem Alpha Centauri yang berjarak 4.3 tahun cahaya dari bumi. Pandora digambarkan sebagai planet yang mirip dengan bumi yang masih asli dan penuh hutan belantara. Namun manusia tidak dapat bernafas di atmosfer Pandora. Pandora didiami oleh penduduk asli, bangsa Na’vi, yaitu makhluk ras humanoid yang primitif dan memiliki kemampuan fisik yang lebih tinggi dibandingkan dengan manusia biasa, memiliki tinggi 3 meter dan berkulit biru. Para Na’vi ini hidup secara harmonis dengan alam di dunia mereka yang masih murni.

avatar-teaser-poster

Dikisahkan, Pandora ternyata memiliki kandungan mineral yang sangat berharga yang disebut Obtanium, yang sepotongnya saja senilai 10 juta dolar amerika. Sekelompok manusia dengan tujuan untuk menambang Obtanium terbang dari bumi ke Pandora, mereka dikawal oleh tentara Amerika yang berperan sebagai tentara bayaran untuk menjaga pihak korporasi yang ingin mengeruk obtanium tersebut. Namun ketika manusia mulai memasuki Pandora untuk mencari mineral, para Na’vi ini berusaha mempertahankannya melalui perlawanan dari prajurit-prajurit Na’vi yang tangguh.

Jake, yang tadinya ikut serta dalam misi ilmiah yang dipimpin oleh Dr Grace Augustine (Sigourney Weaver- i really like her act in Aliens Trilogy) , dibujuk oleh atasannya, Colonel Miles Quaritch (Stephen Lang) untuk menjadi mata-mata dalam rencana penyerangan Pandora.

Dalam misi ilmiah untuk mempelajari Pandora, Dr Grace menciptakan makhluk hybrid Na’vi dan manusia yang disebut Avatar, secara genetis penampilan Avatar sama dengan Na’vi. Avatar dikendalikan dari jauh oleh pikiran manusia operatornya. Dengan tubuh Avatarnya, manusia bisa hidup dalam atmosfer Pandora.

Terpisah dari rombongan Dr Grace, Avatar Jake tanpa sengaja bertemu dengan wanita asli Na’vi bernama Neytiri (Zoe Zaldaña). Oleh clan-nya (Clan Omaticaya), Neytiri diberi tugas untuk mengajari Jake cara hidup bangsa Na’vi. Kelak Jake harus membuktikan bahwa dirinya juga layak menjadi bagian dari Omaticaya.

Seiring berjalannya waktu, Jake kemudian memutuskan untuk bergabung dengan klan Na’vi dan mulai jatuh cinta dengan Neytiri. Akibatnya, Jake dalam keadaan diantara kubu tentara bumi dengan kubu Na’vi yang memaksa dia untuk menentukan kubu mana yang akan ia pilih dalam pertempuran yang akan menentukan nasib Pandora.

Sungguh mengesankan melihat cara Na’vi berkomunikasi dan menjaga alam Pandora. Mereka memuja Eywa yang dipercaya sebagai dewa dari ruh para leluhur. Cara hidup Na’vi yang begitu ‘preserve the nature’ inilah yang perlahan membuat Jake ragu-ragu akan tujuan misinya.

Untuk menggarap ‘Avatar’, James Cameron bersama Vince Pace memodifikasi 3D Fusion Camera System. Hasilnya, tampilan visual ini jauh lebih realistis. Seorang anak kecil yang duduk di samping saya sampai mengulurkan tangan ke arah layar, ketika adegan ruh Eywa yang berbentuk seperti ubur-ubur kecil tampak melayang-layang mengitari James. Maklumlah, apa yang tersaji di layar seolah benar-benar ada di hadapan kita, bisa disentuh.

Bagi saya pribadi, Avatar mungkin adalah film terbaik yang pernah saya tonton sepanjang 2009. Sisi cerita yang kuat, akting pemeran yang natural, pesan moral yang sangat pas dengan isu lingkungan yang marak, dan visual effectnya yang begitu canggih.

Saya kagum dengan tekad James Cameron untuk mewujudkan film ini. Bayangkan, ia mau menunggu dari tahun 1990-an, karena menurutnya saat itu teknologi yang ada belum mampu mewujudkan imajinasinya di Avatar. Saat itu juga tak ada rumah produksi yang mau membiayai keinginannya, karena biayanya terlalu besar. Pelan dan konsisten, James membangun mimpi besarnya, dan lihatlah hasilnya sekarang.

Namun saya masih menangkap kesan berlebihan pada karakter antagonis Quatrich, terkesan begitu kejam dan tidak berperikemanusiaan sama sekali saat akan menghancurkan bangsa Navi dan Hometree. Agak lebay menurut saya. Tapi memang dalam sebuah mesti ada dua karakter yang berlawanan kali yah, biar menarik.

Hanya saja, ada detil kecil yang membuat saya kurang nyaman menonton di Blitz.

Tujuan saya nonton kemarin ada tiga: nonton, pacaran, dan ngaso. Hari itu badan saya lelah sekali, sehingga punya harapan bisa duduk dengan posisi wuenaak sambil ngemil popcorn. Tapi kursi auditorium Blitz saya rasa terlalu keras, tidak selega dan senyaman di Cineplex XXI. Entah sandaran kepala atau punggung yang kurang pas, atau bahannya yang terasa panas, saya tidak bisa duduk dengan nyaman dan rileks. Ya sudah, saya mencari ’sandaran’ yang lain, bahu lelaki saya(niatnya kan juga mau pacaran a.k.a bersandar di bahunya sambil dipeluk, hihihi). Ternyata jarak antar kursi agak jauh, jadi kurang nyaman juga dan kalu bersandar, kacamata 3D pun jadi tidak nyaman dipakai karena posisi kepala jadi miring. Jadilah saya kembali ke posisi awal, duduk manis di kursi. Pacaran tetep jalan, tapi tanpa peluk-peluk. . Duh saya celamitan banget dan banyak maunya ya ? hihihi..

Ya udah deh, pokoknya saya sangattttt merekomendasikan film ini untuk anda tonton. Ga rugi sama sekali, kecuali kalo anda sampai tidur sepanjang film, hehehe.

pic taken from :www.avatarmovie.com

Sewaktu kecil, Natal bagiku adalah memasang dan menghias pohon Natal (pohon terang), memakai baju baru, pergi ke gereja yang dihias dengan indah, mengikuti misa Natal pagi yang walaupun lama tapi menyenangkan karena ramai dan banyak anak-anak ikut berlarian, makan enak-enak, mendengarkan musik-musik Natal tentu saja nggak ngerti artinya kalena belbahaca ingglis, dikunjungi banyak saudara, ucapan Selamat Natal serta cium sayang dari Mama dan Papa.

Tapi bagi anak 5 tahun saat itu, yang paling menyenangkan adalah menghias pohon Natal. Makin besar pohonnya makin asyik. Suatu hari aku meminta pada Mama untuk membeli pohon Natal yang lebih besar. “Kayak punya Tante tetangga itu loh Ma,” kataku. Entah karena menuruti permintaanku atau memang sudah waktunya mengganti pohon Natal, di Natal berikutnya Mama memasang pohon Natal yang lebih besar.

Dimataku saat itu, pohon Natal itu begitu besaaaaar seolah pohon terbesar di bumi. Tentu saja aku sangat bersukacita. Dengan penuh semangat aku membantu mama memasang dan menghiasnya. Ketika lampu pohon Natal dinyalakan dan berkelip, aku bersorak girang dan memeluk Mama. Kebahagiaan khas anak-anak.

Bertahun-tahun kemudian, pohon Natal yang sama masih dipasang dan dihias oleh keluarga kami. Tinggi tubuhku sudah jauh melebihi pohon Natal ‘besar’ itu. Perlahan kami belajar bahwa Natal bukan sekedar beli baju baru. Keheningan di gereja saat malam Natal adalah kerinduan yang membuat kalbu meluruh karena syukur.

Walau begitu, saat menghias pohon Natal selalu menjadi momen yang menyenangkan dan penuh cinta. Kami sering membuat hiasan pohon Natal sendiri. Lebih berkesan dan mengenangkan. Kebahagiaan yang sama dengan masa kanak-kanak, walau usia makin beranjak.

Sampai saat ini, lebih dari 25 tahun sejak pertama kali aku memasangnya, pohon Natal itu masih menghiasi rumah orangtuaku setiap Natal tiba. Pohon itu masih bagus, daun-daunnya masih utuh dan well preserved (Mama memang pandai merawat barang). Hiasannya lebih baru, namun hiasan buatan tangan yang berusia belasan tahun yang lalu ternyata masih ada. Masih menggantung di helai daun pohon Natal tua itu.

Menakjubkan, ketika aku menyadari aku masih diberikan kesempatan oleh yang di atas untuk kembali memasang pohon Natal itu. Pohon Natal ‘besar’ itu telah menjadi saksi bisu perjalanan keluarga kami, melalui Natal demi Natal dengan penuh sukacita, bahagia mensyukuri segala yang Tuhan boleh berikan.

Mengingat pohon natal itu membuatku sadar. Seperti cinta Mama yang menjaga dan menyimpan pohon itu agar tetap indah dan awet, cinta Papa yang selalu memimpin doa syukur saat Natal, tentunya cinta Tuhan jauh lebih baik dan indah dari itu semua.

Setiap hari Tuhan menumbuhkan daun dan cabang kecil di pohon iman di hati kita, memenuhinya dengan rahmat dan nikmat yang kadang kita tak sadari, maupun syukuri. Setiap hari Tuhan menanam pohon-pohon cinta untuk kita sirami melalui sesama yang ia perlihatkan pada kita untuk kita pedulikan. Seringkali kita lupa dan berlagak tidak melihat. Kita lebih peduli menanam dan menyirami pohon ambisi, pohon nafsu, dibanding memperhatikan pohon kasih yang Tuhan telah tanamkan benihnya di hidup kita. Walaupun begitu, Tuhan tidak pernah berhenti menanam pohon kasih itu di hati kita.

Natal bukanlah semata membeliatau menghias pohon cemara, bukan semata membeli baju baru, atau ke gereja bersama-sama dilanjutkan dengan makan bersama, dikunjungi atau mengunjungi kerabat.

Karena Natal adalah wujud Kasih. Semoga Natal mengingatkan kita untuk terus menumbuhkan pohon kasih, dan memberikan buah-buah kasih yang tulus pada sesama kita, siapapun mereka, apapun keyakinannya. Begitulah semestinya Natal dimaknai, bukan hanya selama bulan Desember, tetapi juga sepanjang tahun.

Terima kasih Tuhan, karena atas cinta-Mu, Engkau masih membolehkan aku menikmati Natal tahun ini, bersama segenap keluarga. Terima kasih atas segenap cintaMu atas kami semua.

Luvjoy dan keluarga mengucapkan Selamat Natal untuk D’Bloggers yang merayakan Natal.

Saya berharap semoga kebahagiaan yang tercurah saat Natal melingkupi dbloggers semuanya.

christmas-tree-post-card

Terima kasih untuk rumah kayu atas tulisan tentang Natal yang inspiratif, yang kubaca pagi tadi.

pic taken from http://theaestheticelevator.files.wordpr…

Ini postingan yang nggak saya banget karena copas sana sini, tapi memang mood lagi agak mellow (atau lelah?), mungkin habis mengikuti rapat panjang, plus jalanan macet dan whatsoever.

Kalau lagi mellow, sekali-kali saya bersenandung (pelan-pelan) lagu-lagu kesukaan saya, seingetnya aja.

Beberapa baris lirik lagu yang menjadi kesukaan saya hari ini (copas abis dari mana-mana)

My love, I’ll never find the words, my love
To tell you how I feel, my love, Mere words could not explain
Precious love, you held my life within your hands
Created everything I am, Taught me how to live again

God bless you
You make me feel brand new
For God blessed me with you
You make me feel brand new
I sing this song ’cause you
Make me feel brand new

From Simply Red’s You Make Me Feel Brand New.

Satu lagi…

Why do birds suddenly appear, every time you are near?
Just like me, they long to be
Close to you.

Why do stars fall down from the sky, every time you walk by?
Just like me, they long to be
Close to you.

On the day that you were born, the angels got together and decided to create a dream come true
So they sprinkled moon dust in your hair of gold and starlight in your eyes of blue.

That is why all the girls in town, follow you all around.
Just like me, they long to be
Close to you.

From The Carpenters’ “Close to You” (Burt Bacharach Masterpiece ever!)

And this is my favorite lyrics of the day:

Ienakatta 1000 no kotoba wo
harukana, kimi no senaka ni wo kuru yo
tsubasa ni kaete
Ienakatta 1000 no kotoba wo
kitzu suita, kimi no senaka ni yorisoi, dakishimeru

Terjemahannya kurleb begini :

One thousand words that have never been spoken
Cause you’re so far away
I’m sending those words to you wherever you are, but my words can’t fly to you

One thousand words that have never been spoken
Cause you’re so far away

You’re wounded and I can’t reach you.
I just want to hold you forever

From Koda Kumi’s 1000 No Kotoba (Seribu Kata yang Tak Terucap)

Enjoy life, frens… have a great evening.

Kata sebagian teman, Luvjoy itu hobinya makan. Sementara saya sendiri malah tidak merasa seperti itu.

Bahkan kata pak Bos kalu lagi traktir kita anak-anak buahnya, “Ga usah kuatir kebanyakan pesan menu, ada ****(nama asli Luvjoy) yang bisa menghabiskan”. Heran juga kenapa saya bisa dianggap begitu. Padahal saya aslinya kalo makan dikit lho. Cuma memang saya hobi jajan mencicipi makanan dan tidak ragu mencoba restoran baru yang menurut saya menarik (dan harganya masih masuk budget). Dan kebiasaan saya, saya sering menceritakan pengalaman kuliner saya ke teman-teman saya, terutama bila saya anggap pengalaman itu menarik. Saya juga interest kalu seseorang menceritakan pengalaman kulinernya di sebuah tempat jajan. Saya sering blogwalking ke blog-blog kuliner dan detik food.

Seperti kali ini, aku ingin share pengalaman kuliner masakan Solo.

Ada sebuah rumah makan yang menarik perhatianku saat aku baru pindah ke lokasi kantor baru, di bilangan Bintaro, Tangerang Selatan. Rumah makan ini saya lewati setiap perjalanan pergi dan pulang kantor. Pertama saya melihatnya,saya terkesan dengan bangunan resto yang seperti rumah joglo, rumah khas jawa yang sekarang sudah jarang ditemui.

Ternyata model bangunannya sesuai dengan nama rumah makan tersebut: JOGLO SOLO. Beberapa kali memendam rasa penasaran setiap melewati restoran tersebut, akhirnya di suatu malam saya berhasil memaksa membujuk my hubby untuk menemani saya mencoba makanan di situ.

JOGLO SOLO merupakan restoran berkonsep galeri. Ruang makan terbagi menjadi 3 area: area makan biasa (pakai meja dan kursi makan), area lesehan, dan ruang private di bagian dalam berkapasitas 10 orang. Interiornya didominasi perabot dari kayu dan bernuansa antik. Beberapa diantaranya ditempeli label harga, dan ini berarti item tersebut dijual, atau jika diinginkan, bisa dipesan baru dengan model serupa. Di situ ada vas bunga keramik yang cantik yang saya taksir, ternyata melihat label harganya lumayan juga (mahalnya). Apalagi gebyok jati yang memisahkan antara ruang private dan ruang utama, gak kebayang berapa jeti harganya.. karena ukirannya halus dan indah.

Galeri Joglo Solo

Galeri Joglo Solo

Items For Sale-Joglo Solo

Items For Sale-Joglo Solo

Itu tadi suasana restorannya, menunya bagaimana? Restoran ini menyajikan masakan Jawa Tengah khususnya masakan Solo, yang memang sudah sangat familiar dengan lidah saya.

Menu andalan di sini adalah nasi liwet, jadi saya memilih menu itu. Kemudian saya memilih selat solo dan hubby menunjuk menu sop buntut. Untuk minumannya saya memilih teh poci dan hubby pesan jeruk hangat (dua-duanya lagi flu jadi ingin yang hangat-hangat..hehehe). tak lupa kami memesan side dish berupa tahu dan tempe bacem.

Nasi liwet disajikan diatas piring yang dialasi daun pisang. Nasinya gurih dan pulen, ditemani lauk berupa sayur santan labu siyem yang pedasnya pas, telur pindang dan suwiran ayam plus kuah opor ayam. Di atas nasi masih disiram dengan areh (santan kental) yang putih dan gurih. Hmm.. harumnya nasi pulen hangat berpadu aroma areh langsung membuat saya lapar berat. Apalagi disantap bersama tahu dan tempe bacem ditambah pedasanya sambal.

Puas menyantap nasi liwet berdua hubby, Selat Solo dan Sop Buntut kami datang.

Selat Solo, sebenarnya aku lebih sering menyebutnya bistik solo, berisi racikan daging bistik dan side dish seperti kentang goreng, buncis , wortel, potongan telur rebus, tomat dan daun selada. Racikan ini disiram dengan kuah bistik (seperti kuah semur tetapi agak kental dan spicy), ditambah sesendok teh mustard sebagai condiment. Menyantap selat solo, akan ditemukan perpaduan rasa gurih dari daging bistik, rasa manis agak pedas khas Jawa Tengah dari sentuhan lada dan kecap pada kuah dan citarasa asam nan segar dari mustardnya. Benar-benar luar biasa dan menggelitik lidah. Selat Solo adalah perpaduan antara cita rasa Eropa (yang dibawa dari masa penjajahan Belanda) dengan kekayaan aroma rempah-rempah dari Jawa. Selat solo sangat cocok disantap di hari yang dingin, karena menimbulkan sensasi hangat nan segar!

Tapi kelezatan selat solo yang menari di lidah saya sedikit terusik dengan aroma harum dari mangkuk berisi sup buntut pesanan hubby. Saya sendiri bukan penggemar sop buntut, tapi melirik kuah bening yang mengepulkan asap beraroma wangi itu kok rasanya tidak tahan untuk tidak mencicipinya.

Hmm, menurut saya (dan hubby) kuah sop buntutnya lumayan, walaupun agak light. Kurang spicy. Tapi dagingnya benar-benar empuk, mudah diiris pakai sendok dan tidak membuat kloloten di gigi saya. Namun dibandingkan sop buntut yang saya cicipi di resto yang lebih besar dengan harga berlipat, sop buntut di sini sudah OK, mengingat rasa dan porsinya kurang lebih setara dengan sop buntut di resto di mall itu. Terus terang, sampai saat ini saya belum menemukan sop buntut yang se-nendang Sop Buntut a la Hotel Borobudur. Tolong info ke saya ya, kalu teman-teman dblogger ada yang tahu tempat sop buntut yang maknyus di Jakarta atau Tangerang.

Selat Solo

Selat Solo

Sop Buntut

Sop Buntut

Makan malam hari itu ditemani dengan teh poci yang istilahnya orang Jawa, nasgitel - panas, legi(manis), dan kenthel. Terbiasa minum teh celup kantongan itu, minum teh poci yang diseduh mengingatkan saya pada kebiasaan di rumah mama waktu belum menikah. Mama selalu membuat teh poci dari daun teh seduhan. Suguhan teh poci ditemani gula batu, menuntaskan rasa penasaran saya pada restoran ini. Makan di restoran ini benar-benar seperti kembali ke kota Solo, apalagi pengunjung juga diperdengarkan alunan musik gending jawa yang sayup-sayup namun syahdu. Serasa benar-benar ada di rumah di Solo.

Melihat interior yang demikian cantik dan berkelas, ditambah sajian menu yang menarik dan rasa yang lezat, kita bisa berprasangka harga makanan di sini juga ‘berkelas’. Tetapi saya agak kaget juga melihat harga menu yang ditawarkan. Masih terjangkau. Untuk satu porsi bistik solo tanpa nasi, kita cukup membayar 19 ribu saja. Nasi liwet komplit cukup membayar 17 ribu. Saya dengan hubby hanya menghabiskan 50 ribu rupiah saja dan masing-masing makan lebih dari satu porsi (artinya porsi kami berdua itu adalah porsi berempat, hehehe).

Jadi bila anda berkantor di bilangan Bintaro dan sekitarnya dan ingin makan siang di luar dengan suasana berbeda dan cozy namun masih nyaman di kocek, saya sangat merekomendasikan restoran ini.

Sori kalu skrinsyutnya kurang terang, saya gaptek soal pencahayaan kamera di HP.

Joglo Solo, Jl. Tegal Rotan No 1, Bintaro Sektor 7, arah Tol BSD, Bintaro, Tangerang Selatan.

Dari segala pasar di Jabodeta (tidak pakai bek-Bekasi, karena memang belum pernah), yang pernah saya kunjungi (halah… emangnya saya ini preman pasar??), salah satu pasar yang membuat saya selalu terkesan adalah Pasar Modern BSD.

Pasar Modern BSD sebetulnya merupakan pasar tradisional namun berkonsep modern dan unik, berlokasi di BSD City, Serpong. Pasar ini adalah pasar tradisional terdekat dari rumah saya. Tapi bukan hanya soal jarak yang membuat saya jatuh cinta sama pasar ini.

Pertama kali mengusung konsep Pasar Modern, Pasar Modern BSD sering menjadi rujukan atau tempat studi banding bagi Dinas Pemerintah Daerah lain di luar Tangerang yang ingin merevitalisasi pasar tradisionalnya.

Betapa tidak, sejak raksasa hypermarket menancapkan kuku bisnisnya di negeri ini, perlahan-lahan beberapa pasar tradisional di Jabodetabek mulai menyurut geliatnya, kalah saing dengan hypermarket yang menawarkan suasana belanja yang nyaman, aman dan harga yang memang miring (untuk beberapa item).

Nah, tidak demikian dengan Pasar Modern BSD. Sejak buka pertama kali di tahun 2004, pengunjungnya sudah membludak. Kian hari pasar ini malah semakin eksis dan punya ciri khas, tidak terganggu dengan tiga peritel besar yang berdiri dengan radius hanya 3 - 5 km dari pasar tersebut. Saya amati dari tahun ke tahun, pengunjung pasar ini makin bertambah saja. Pengunjung fanatik pasar ini pun tidak hanya dari wilayah BSD atau Serpong, tapi juga dari Bintaro, Jakarta Selatan dan wiayah lain. Belum lagi berita kunjungan pejabat yang silih berganti mengunjungi pasar ini. Pasar ini juga sering dijadikan tempat syuting iklan atau acara televisi yang ada hubungannya dengan kuliner.

Salah satu kunci keberhasilan Pasar Modern BSD melawan dominasi hypermarket adalah konsep yang diusung pengembang dan pengelolanya yaitu pasar tradisional yang bernuansa modern. Dari sisi produk, konsep kios dan produk dijual di pasar ini tetap bernuansa tradisional, namun variasi item di pasar ini melebihi mal modern. Kedua, yang membedakan dengan pasar tradisional biasa adalah bangunan yang dirancang khusus agar hawa tidak panas dan kebersihan pasar yang dijaga dengan sangat baik dan ketat oleh penyewa maupun pengelolanya, sehingga pengunjung lebih betah berlama-lama di pasar ini. Ketiga, pasar ini memiliki kuliner yang sangat lengkap dan beragam yang menjadi salah satu rujukan tempat wisata kuliner di Serpong.

Dari sisi bangunan, bangunan inti pasar ini hanya satu lantai dengan langit-langit yang tinggi, sehingga memungkinkan sirkulasi udara yang baik sehingga hawa di dalam tidak panas walau tanpa AC.

Bangunan inti ini dikelilingi oleh ruko 2 lantai yang meliputi keempat sisi pasar . Sekilas anda bisa terkecoh mengira pasar ini sebagai sebuah kompleks ruko yang luas. Arsitektur ruko terlihat cantik dengan warna-warni pastel khas ruko BSD City, sehingga dari jauh pun terlihat bahwa bangunan pasar ini sangat ngejreng dan juga modern.

Jangan kuatir bakal becek atau bau kalau belanja di pasar ini, apalagi kuatir saltum! Banyak ibu-ibu yang berdandan cantik dengan sandal tinggi yang santai saja berbelanja di pasar ini. Secara berkala petugas kebersihan akan mengambil sampah dan mengepel lantai pasar sehingga pasar selalu kering.

Suasana belanja, kelengkapan produk dan kekayaan wisata kulinernya begitu menyenangkan. Segala bahan makanan segar ada di pasar ini, ditata di los-los yang rapi. Mau masak apa hari ini? Just name it and go shopping. Daging, seafood, sayuran, buah-buahan, bumbu dapur, macam-macam bahan makanan, halal dan tidak halal ada juga di sini.

Bukan hanya itu, bahan makanan yang unik dan sulit didapat seperti bumbu masakan chinese, european atau korean food, bahkan bahan pembuat kue yang unik-unik pun ada di sini. Dbloggers yang hobby bikin cake atau kue bisa belanja bahan kue di Puspita Bakery Shop. Produknya sangat lengkap meliputi bahan dan alat pembuat kue, kemasan-kemasan cake, berbagai macam oven bahkan kursus bakery Bogasari tersedia di sini.

Selain menjual bahan makanan, di area pasar dan ruko juga tersedia kios pakaian (jangan salah, biar di pasar juga, model fashionnya update banget), toko obat dan jamu, kios pernak-pernik penghias rumah, perlengkapan bayi, toko kosmetik, money changer, bahkan juga kursus sempoa!

Kalau mau berwisata kuliner yang komplit mencicipi makanan khas seantero nusantara bahlan mancanegara, cukup anda nongkrong dan mencicipi aneka resto dan warung di pasar ini.

pasar-bsd

pasar-modern

Pagi hari, belasan orang sudah mengantre untuk sarapan di Warung Masakan Padang Uni Elok, Mie dan Nasi Tim Ayam Kampung Melati, atau Soto Mie Leo Dozan. Suka dimsum? Wow, you must try Oen Pao dimsum yang kiosnya saja sampai tiga lapak di bagian dalam pasar ini, saking banyaknya peminatnya. Pilihan lainnya? Ada Pempek Palembang 61 (pempeknya super komplit, ada pempek bakar dan pempek pistel yang jarang kutemui), Toko Can yang menjual aneka masakan jawa timur, Nasi Bogana An Lay, Bubur Ayam Gaul, Gudeg Jogja Komplit, Mie Ayam Ala Medan/Pontianak/Bangka, Kopi kental di The Kopitiam, hangatnya Wedang Ronde, Aneka Minuman dan Juice. Duh.. sarapan pagi bisa serasa makan di kondangan!

Sekitar pukul 1 siang, pasar inti sudah berbenah untuk tutup. Tapi, mulai senja hingga tengah malam, lapangan parkir pasar yang luas totalnya 2.6 ha berubah menjadi pujasera warung tenda yang sangat lengkap. Petualangan kuliner malam hari dimulai!

Di bagian depan pasar ada Bakso Kota Cak Man, Tenda nasi Uduk, Mie Kocok Bandung dan Seafood

Di bagian samping pasar aroma Mie Jawa nyemek yang memasaknya masih pakai arang, Sate Tulang, dan Nasi Bakar.

Di bagian belakang pasar, warung tenda Sop Kaki Kambing , Bebek goreng, Warung Suroboyo dengan rawonnya yang luar biasa, dan lagi-lagi Seafood Jimbaran.

Mau mencicipi hidangan mancanegara? Thai Steamboat, Japanese Food dan Steak serta Spaghetti juga tersedia di sini.

Jajan malam hari tidak akan kehabisan pilihan di sini.

Pesan saya, kalau belanja di pasar ini buatlah perencanaan belanja yang baik, dan jangan puaskan lapar mata anda. Sangat mungkin terjadi anda membeli dan makan banyak sekali kalau anda berkunjung kemari, di luar apa yang anda rencanakan. Terus terang saya malah lebih disiplin terhadap shopping list jika saya berbelanja di mal atau hypermarket daripada di pasar ini.

Bagaimana tidak? Kue-kue di pasar ini begitu beragam dan menggoda. Ada Serabi Notosuman yang gurih khas solo, kios siomay tahu yang -oh my god-lezatnya, kios Pastellia yang menjual pastel dan gorengan yang renyah dan selalu cepat habis, kios kue basah tradisional yang so uniquely delicious (talam coklat, talam ayam, lemper, kue apem, kue ku, ketan ebi, kue khas manado seperti panada dan lontongdengan abon cakalang). Belum lagi cing cong fan(kue khas china) , risoles daging asap, lumpia semarang, bakpao mini aneka rasa dan…aduh masih banyak lagi cemilannya.

Setiap pulang dari pasar ini, tentengan saya beraneka ragam di luar tentengan belanjaan dapur. paling banyak sih camilan. lainnya? yah,..paling baju anak-anak, aksesoris, cetakan kue, kosmetik tradisional dan lulur.. lho.. lho kok jadi banyak gini ?

Saya bersyukur jadi perempuan bekerja yang hanya punya waktu berbelanja ke pasar ini di akhir minggu. Kalau nggak, bisa-bisa setiap hari saya belanja dan makan di sana. Dan tubuh langsing yang selalu saya jaga ini bisa-bisa tinggal kenangan (wahahaa lebay).

Sebetulnya, dimanapun tempatnya, buat saya belanja ke pasar tradisional selalu memberikan kerinduan. Selalu ada hal-hal dari pasar tradisional yang tidak akan pernah digantikan mal atau hypermarket. Pasar Jaya Slipi salah satunya. Kalau ada waktu ke sana, saya selalu menyempatkan membeli donat kentang dan bolang baling (kue bantal) yang rasanya…hmm menurut saya tiada duanya. Penjahit langganan keluarga saya selama 15 tahun juga masih berkios di sana. Toko kosmetik langganan saya dulu juga masih eksis, senang juga melihatnya.

Namun kadang waktu yang terbatas a.k.a jam buka pasar yang hanya siang hari, yang membuat saya masih sering belanja di supermarket modern daripada di pasar tradisional. Begitulah hidup saya menemukan tempatnya.

Oh ya, pasar ini juga sudah pernah dibahas di detikfood lho!

Ok, jadi kapan nih dblogger kopdaran di warung tenda pasar modern BSD? Ditunggu ya!

Akhir-akhir ini selain dihebohkan tayangan sinetron jawara tahun ini ‘ Cicak vs Buaya’, media ramai memberitakan tentang klub poligami yang baru-baru ini dibentuk. Teman-teman tahu sendiri  ramainya pro-kontra soal klub poligami maupun tentang poligami itu sendiri.

Saya tak akan berkomentar tentang poligami karena memang bukan kapasitas saya. Tapi saya mau sharing tentang sebuah serial film HBO yang berkisah tentang kehidupan sebuah keluarga yang menganut poligami di US. Serial ini berjudul BIG LOVE, saat ini penayangannya di HBO Asia sudah memasuki season 3, dan season 4 dijadwalkan diputar di kuartal pertama 2010. Selama ini, kalau ada waktu, saya selalu menyempatkan untuk menonton serial ini. Menurut saya kisahnya menarik banget.

BIG LOVE, berkisah tentang keluarga Bill Henrickson (diperankan Bill Paxton), penganut fanatik salah satu sekte Mormon, suatu sekte keagamaan dari US yang mengizinkan penganutnya berpoligami. Bill Henrickson memiliki 3 (tiga) istri, diurutkan dari yang pertama dan tertua, Barbara - Barb (Jeanne Triplehorn), Nicki (Chloe Sevigny) , dan Margene (Ginnifer Goodwin) yang paling muda dan cantik. Dari ketiga istrinya, Bill memiliki delapan anak. Wuih banyak amat yaaa anaknya,…

By the way, melalui film ini saya juga baru tahu bahwa ternyata ada sekte Mormon yang mengizinkan poligami. Oh ya , kisah dalam film ini seluruhnya fiksi, walaupun sekte yang disebut-sebut ‘mempraktekkan poligami’ tersebut kabarnya memang ada.

Sekilas, keluarga Bill adalah suatu bentuk poligami yang ideal.  Bill adalah lelaki usia pertengahan yang memiliki usaha retail yang sukses.  Seharusnya tidak ada kesulitan membiayai nafkah lahir seluruh keluarganya. Bill dan ketiga istrinya tinggal dalam 3 rumah yang saling terhubung di sebuah kompleks elit di Sandy, Salt Lake City, Utah. Istri kedua dan ketiga Bill dinikahi dengan persetujuan penuh dari istri sebelumnya. Klop kan.  Istri-istri dan anak-anak Bill  hidup rukun. Happily ever after.. sepertinya.

Big Love

Big Love

Masalah mulai timbul karena di Bill tinggal di lingkungan warga AS pada umumnya, bukan di lingkungan sekte Mormon.  Tentu saja masyarakat di daerah Bill tinggal belum bisa menerima ide poligami yang dilakukan Bill.  Bill memilih untuk merahasiakan identitas keluarganya, agar bisa membaur di lingkungannya dan supaya usaha retailnya tetap laris. Di kompleks tempat keluarga Bill tinggal, hanya Barb lah yang dikenal sebagai istri Bill. Di episode awal, digambarkan betapa Nicki dan Margene harus sering menahan sakit hati dan kecewa saat di depan kolega bisnis dan tetangga, hanya Barb yang ‘diakui’ sebagai istri Bill. Bahkan para pekerja Bill tidak ada yang tahu kalau bossnya memiliki 3 istri.  Masalah juga timbul saat putra Nicki mulai sekolah.

Ada beberapa hal yang membuat saya tersenyum waktu menonton serial ini. Sebagai suami dengan 3 istri, ternyata para istri-lah yang mengatur jadwal tidur Bill, hari ini mesti tidur dengan siapa. Bill harus mengikuti jadwal yang dibuat istrinya. Ada satu scene saat Bill mestinya tidur dengan Nicki, ternyata mereka ribut sehingga Bill keluar dari kamar dan berusaha bergabung dengan salah satu dari kedua istri lainnya. Ternyata dua istri yang lain kompak menolak karena malam itu bukan jatah mereka. Jadilah Bill tidur sendiri.. hehehe..

Walaupun ini cerita fiksi, konflik dan masalah yang timbul seputar Bill dan 3 istrinya terlihat begitu natural dan membumi. Wajar, manusiawi dan tidak dibuat-buat.

Ketiga istri Bill digambarkan saling bersaing untuk mendapatkan perhatian Bill. Barb, sang pemimpin yang berwibawa, tegas sekaligus ‘pushy’. Nicki, the number 2, ibu rumah tangga yang konservatif sekaligus manipulatif. Margene yang termuda, penuh gairah tetapi sering bersikap kekanakan dan sering iri dengan wewenang yang diberikan Bill kepada Barb. Kecemburuan, dendam, emosi dan intrik, juga cinta dan rasa pengertian yang dipaksakan mewarnai hubungan mereka.

Ketiga istri Bill masing-masing digambarkan memiliki emosi yang campur aduk antara rasa cinta pada Bill, toleransi terhadap istri dan anak-anak lain dari Bill, dan juga keinginan pribadi yang ada kalanya harus dikuburkan atau ditunda demi ‘keluarga besar’. Misalnya saat Margene dan Nicki sama-sama ingin bekerja untuk aktualisasi diri, Margene harus mengalah pada Nicki yang lebih senior.

Tentang istri Bill, adegan yang membuat saya tersentuh adalah ketika mengetahui bahwa Barb sebenarnya menderita kanker. Dan demi cintanya pada Bill, kekuatiran bahwa dia akan meninggal lebih dulu sebelum Bill, serta memikirkan pengasuhan anak-anaknya, Barb mengijinkan Bill menikah lagi. Dalam beberapa episode digambarkan konflik batin Barb yang harus berperan sebagai istri resmi dan menjaga wibawa Bill di depan koleganya, ditengah kegundahan hatinya menghadapi tingkah Nicki dan Margene.

Rumitnya memiliki tiga istri membuat Bill harus pontang-panting berusaha bersikap adil dalam memberikan perhatian, memenuhi keinginan ketiga istrinya(yang masing-masing tabiatnya berbeda) termasuk berusaha menjadi contoh yang baik bagi anak-anaknya yang sudah beranjak dewasa, Ben dan Sarah. Ada beberapa scene yang menampilkan betapa stress nya Bill yang harus menghadapi masalah di kantor dan masalah karena persaingan istrinya dalam waktu yang bersamaan. Perasaan kesal karena harus mengalah juga ditampilkan oleh salah satu istri bila Bill terpaksa memenangkan istri yang lain untuk alasan tertentu. Pada akhirnya, keuangan menjadi masalah bagi Bill untuk bisa terus menghidupi keluarga besarnya, ditambah ambisi pribadi menyebabkan Bill harus mencari tambahan penghasilan dengan berinvestasi di sebuah perusahaan kasino.

Saya menangkap ada beberapa pesan yang disampaikan melalui film ini.

Pertama:

Jalan hidup atau pilihan yang diambil oleh orang tua dengan segala pembenaran dan egoisme masing-masing, belum tentu dapat diterima oleh anak, dan seringkali anaklah yang paling menderita atas pilihan orang tuanya. Tindakan yang diambil orangtua, apapun itu, bisa berakibat dampak psikologis yang dalam pada anak-anak.

Dalam film ini dikisahkan Sarah, putri tertua Bill dan Barb yang sebenarnya menderita karena hidup dalam keluarga dengan tiga ibu dengan ambisi masing-masing. Sarah harus sendirian menghadapi cemoohan temannya yang mengetahui bahwa ayahnya adalahg pelaku poligami. Sarah yang selalu bersikap sebagai ‘good girl’ makin terpukul saat mengetahui ayahnya mengencani seorang wanita untuk dijadikan istri keempat. Sebagai wujud protes terhadap tindakan Bill, dan juga Barb yang selalu ‘mendukung’ keputusan suaminya, Sarah memutuskan untuk menyerahkan keperawanannya kepada kekasihnya, Suatu tindakan yang sebelumnya sangat ia tentang.

Sebaliknya, Ben, putra Bill dan Barb, beralih dari seorang pendukung ‘monogamist’ menjadi pendukung poligami seperti ayahnya di usia remaja. Tindakannya mengencani dua gadis kembar sekaligus untuk dijadikan istri-istrinya kelak ternyata menimbulkan kekhawatiran yang mendalam pada Bill dan Barb akan kematangan perkembangan jiwa Ben.

Kedua:

Mempertahankan keseimbangan dalam hidup poligami tidak mudah. Seideal apapun keadaannya, poligami tetap membuka ruang untuk konflik antar anggota keluarga dan anak. Dalam film ini setiap anggota keluarga berada dalam tekanan untuk harus bisa selalu tampil ‘bahagia’ walaupun harus berbagi hati dan mengalah. Seorang Bill yang berusaha tampil adil bagi istri-istrinya seringkali harus berbohong supaya tidak menyakiti istri yang lain. Alasan Bill untuk berpoligami juga akhirnya berbenang merah pada pemenuhan nafsu. Pada episode-episode terakhir ini terlihat bahwa motif awal Bill mendekati Ana, calon istri keempatnya adalah karena fisik dan kecantikannya, bukan karena untuk mengembangkan ‘keluarga besar dalam kerajaan Tuhan’ seperti yang diperintahkan ajarannya.

Film ini dalam perjalanannya tak hanya menuai banyak kritik pedas maupun positif atas tema kontroversial yang dipilihnya, namun juga membuahkan beberapa nominasi pada ajang Golden Globe, termasuk nominasi Best Actor on Television Drama untuk Bill Paxton, pemeran Bill Henrickson.

Saya tidak tahu apakah film ini  bakal diputar di stasiun TV lokal. Kalau diputar kelihatannya bakal menuai kritik pedas sih, hehehe.  Tapi kalau tidak salah, DVD serial ini sudah keluar.  Mungkin saja DVDnya beredar di Indonesia, kalau anda berniat nonton.

Namun bagi para (calon) pelaku atau pendukung poligami saya merekomendasikan untuk menonton serial film ini dulu, supaya bisa mendapatkan sekilas gambaran tentang betapa berat dan tidak mudahnya hidup berpoligami itu.

Membaca judul serial ini: BIG LOVE, artinya cinta yang besar, saya jadi teringat tag line blog teman saya si ruang hati : Too much love never kill you. Kalau dikaitkan dengan film ini, ada benarnya juga: Too much love will not kill you, it only brings you into trouble. Hehehe….

Judulnya serem ya?

Iya, setelah lama vakum gara-gara sok sibuk, semalam saya terpikir untuk menulis tentang pelecehan seksual. Saya pernah mengalaminya. Beberapa dari anda mungkin juga pernah, dan yang belum, semoga jangan sampai mengalami hal ini.

Apa sih arti pelecehan seksual?

Menurut definisi dari Wikipedia, pelecehan seksual adalah perilaku pendekatan-pendekatan yang terkait dengan seks yang tidak diinginkan, termasuk permintaan untuk melakukan seks, dan perilaku lainnya yang secara verbal ataupun fisik merujuk pada seks.

Pelecehan seksual dapat terjadi dimana saja baik tempat umum seperti di kendaraan umum, di pasar, kantor maupun di tempat pribadi seperti rumah. Pernah dengar atau baca kan kasus pelecehan seksual oleh tetangga maupun orang terdekat dalam rumah?

Obyek pelecehan seksual biasanya adalah wanita dewasa, remaja dan anak-anak (hiks) . Pria dewasa juga mungkin jadi obyek pelecehan seksual, tetapi pelaku pelecehan seksualnya tetap pria. Saya rasa sangat-sangat jarang kejadiannya pelaku pelecehan seksual adalah wanita.

Tindakan apa saja yang dapat digolongkan sebagai pelecehan seksual? Macam-macam. Kalu di kendaraan umum, mencolek tubuh bisa dikategorikan sebagai pelecehan seksual. Yang lebih parah adalah menempelkan alat vital. Huh, pelaku hal ini menurut saya adalah seorang psikopat.

Kalu di tempat kerja, bentuknya macam-macam. Bisa berupa joke atau gurauan tentang seks, ungkapan-ungkapan atau pujian tentang bagian tubuh yang tidak sepantasnya, ajakan berhubungan seks secara langsung atau tidak langsung, intimidasi terhadap karyawati untuk melakukan keinginan atasan yang berhubungan dengan seks atau seksual. Yang jelas, menurut saya disebut pelecehan jika saat kita merasa TIDAK NYAMAN saat mengalami hal atau tindakan itu.

Mencegah terjadi (lagi)nya pelecehan seksual di tempat kerja.

Seringkali perilaku pelecehan seksual terus berulang dialami karena tanpa sengaja kita sendiri sebagai korban berlaku permisif terhadap perlakuan tersebut. Misalnya bila rekan kerja mengungkapkan joke tentang seks yang membuat kita merasa tidak nyaman, kita diam saja. Mungkin sebenarnya kita tidak setuju, tetapi bingung mengungkapkannya. Atau bila seseorang berlaku ‘tidak sengaja’ menyentuh area private kita, dengan dalih apapun lalu kemudian dia senyum-senyum. Kadang karena kaget, kita tidak bisa berbicara atau memprotes tindakan tersebut secara spontan.

Namun kadang-kadang sebagai perempuan kita juga merasa takut untuk speak out. Apalagi bila pelaku pelecehan itu adalah atasan atau orang yang lebih tinggi jabatannya dari kita. Ada rasa kuatir karir kita akan terancam karena penolakan itu.

Tapi, bila memang kita merasa tidak nyaman dengan joke atau perlakuan tersebut dan tidak melakukan apa-apa, niscaya pelaku pelecehan akan beranggapan bahwa kita pun OK OK saja diperlakukan seperti itu. Padahal SAMA SEKALI tidak kan?Apalagi jika kita bekerja di lingkungan yang mayoritas pekerjanya laki-laki.

Jadi, speak out gals. katakan bahwa anda tidak suka dengan perlakuan seperti itu. Tidak harus berteriak marah, tapi ungkapkan dengan nada jelas dan tegas. Misalnya dengan mengatakan,” Pak, terus terang saya tidak nyaman dengan apa yang bapak lakukan tadi. Saya rasa kita berdua sama-sama tahu aturan berrelasi di tempat kerja untuk saling menghormati satu sama lain, dan apa yang terjadi tadi menurut saya sudah diluar aturan tersebut.”

Tatap mata orang yang melakukan tindakan yang tidak menyenangkan tersebut supaya dia mengetahui anda serius.

Jika seseorang ‘tanpa sengaja’ berusaha (berusaha kok tanpa sengaja ya?) menyentuh area private anda, tampik tangannya dengan keras. Tatap mata si pelaku dengan tajam.

Reaksi orang bisa beraneka ragam. Ada yang bisa menerima, ada yang tidak. But at least he knows that you do not allow his action.

I’ve been through these sexual harrashment events several times. Masih yang ringan. Tapi heran deh kok bisa. Padahal sehari-hari pakaian kerja saya tertutup, asal tahu saja saya nyaris tidak pernah mengenakan rok. Setelan saya selalu blus dengan blazer lengan panjang dan celana panjang.

Suatu kali, di lift yang penuh orang, saya pernah mendapati seorang pria (saya tidak kenal karena dia tidak sekantor dengan saya) dengan tidak malu-malu menatap dada saya dengan pandangan nakal sambil senyum-senyum aneh, dan yang jelas, tidak menyenangkan! Saya pandangi dia balik dan berkata keras, “Ngapain liat-liat?”

Uph! Mukanya langsung merah padam,terutama karena semua penumpang lift kini menatap pada pria itu. Dia langsung memalingkan muka. Dan begitu pintu lift terbuka entah di lantai berapa, pria ini langsung keluar dan menghilang. Saya lega. Tetapi tetap mengumpat dalam hati. Orang-orang seperti ini memang harus diberi pelajaran.

Jadi, menurut saya setiap orang harus menunjukan bahwa dia tak bersedia dilecehkan. Jangan memberikan peluang pada pihak manapun untuk melecehkan diri kita. Jangan takut untuk menunjukkan sikap tegas pada saat orang lain melakukan tindakan tanda-tanda kearah pelecehan, seperti menatap dengan pandangan aneh atau meraba-raba.

Hal lain yang bisa saya sarankan untuk mencegah terjadinya pelecehan seksual adalah dengan mengenakan pakaian yang tertutup, terutama bila lingkungan kerja anda memang penuh dengan pria-pria berpikiran ngeres. Walaupun itu juga bukan jaminan juga sih. Anyway, gaya berpakaian menurut saya adalah hak seorang wanita untuk memilih. Kecuali kalau dalam tempat kerja tersebut seragam karyawan sudah ditetapkan sedemikian rupa. Harus memakai rok span, misalnya.

Bila di lingkungan kerja kita mengetahui sesama rekan wanita dilecehkan, jangan bersikap cuek. Kalau memungkinkan kita tegur pelaku pelecehan tersebut. Tindakan menegur ini akan membuat dia sadar bahwa aksinya diperhatikan orang dan tidak pantas dilakukan, syukur-syukur membuat pelaku ini malu melakukannya lagi.

But what if all you have done to prevent further sexual harrashment in your workplace DON’T WORK OUT?

Bagaimana jika tindakan yang anda terima sudah begitu mengganggu? Jangan ragu untuk melaporkan tindakan pelecehan seksual ini ke management level yang lebih tinggi atau HRD. Karena dalam peraturan Kesepakatan Kerja Bersama tiap perusahaan, biasanya hal semacam ini sudah diatur.

Kalau perusahaan anda tidak punya KKB, dan pihak management juga tidak bisa bekerja sama, menurut sahabat pinterku perbuatan ini bisa dilaporkan ke polisi, karena pelecehan seksual diatur di KUHP dengan pasal 355 perbuatan yang tidak menyenangkan (bener ga sih sis mou? hehehe). Begini kutipannya kalau tidak salah copas:

Pasal 335 ayat (1) KUHP menyebutkan sebagai berikut :

(1) Diancam dengan pidana penjara paling lama satu tahun atau denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah:

1. barang siapa secara melawan hukum memaksa orang lain supaya melakukan, tidak melakukan atau membiarkan sesuatu, dengan memakai kekerasan,sesuatu perbuatan lain maupun perlakuan yang tak menyenangkan, atau dengan memakai ancaman kekerasan, sesuatu perbuatan lain maupun perlakuan yang tak menyenangkan, baik terhadap orang itu sendiri maupun orang lain;

Well,hukumannya memang singkat. Tapi paling nggak sudah ada perangkat hukum yang mengatur tentang hal ini. Tinggal kita berani melaporkan atau tidak, karena konsekuensinya akan panjang dan lama.

Ada sahabat yang mau berkomentar tentang ini?

Next Page »

    Web blogdetik